Tampilkan postingan dengan label curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

day 30: unproductiveness

Sebenarnya, aku selalu berusaha untuk menjadi produktif selama liburan yang panjang ini berlangsung. Namun banyak hal yang menghalangi aku untuk mengerjakan sesuatu. Entah rasa minder, kekhawatiran yang tidak jelas atau malas untuk melakukan apapun. Ataukah ini efek suatu pikiran delusional yang membuatku tenggelam dan hanya melamun seharian?

Aku tidak tahu jelas apa yang menyebabkan kurangnya produktivitasku. Ranjang di kamar tidur selalu menggodaku untuk berbaring di atasnya dan bermimpi indah mungkin bisa jadi alasan. Artis-artis favoritku banyak mengeluarkan album dan single baru yang membuatku penasaran untuk mendengar lagunya dan menonton video musik mereka, menghabiskan waktuku. Melihat teman-temanku yang tengah berjalan-jalan ke berbagai tempat atau berpesta sampai malam, ada perasaan bahwa hidupku tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

Aku sudah makan beberapa jenis makanan yang bisa menstimulasi saraf otak, memang sedikit berhasil. Namun, otak dan tangan tidak memiliki kesinambungan sama sekali. Setiap ada ide, sulit bagiku untuk merealisasikannya. Mungkin terasa mudah, tapi terkadang banyak yang tidak menghargai hasil karyaku. Bagaimana jadinya kalau aku menjadi orang yang paling dihujat?

Kepalaku pusing memikirkan masalah pribadi, godaan dari luar dan semua hal yang menghalangiku untuk produktif. Terkadang itu semua dapat menjadi inspirasi, namun sayang sekali aku kurang mampu untuk mengekspresikan diri. Apa sebenarnya aku yang terlalu takut akan cemooh buruk itu?

Sudahlah, aku akan tetap memaksa diriku. Bodo amat mereka bilang aku masokis.

#NulisRandom2015

Senin, 22 Juni 2015

day 22: i am an idol

Aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang idola. Kubayangkan semua mata tertuju padaku, cahaya panggung itu menyorot tubuhku dan suara-suara lantang meneriakkan namaku. Pasti akan menyenangkan rasanya, hidup dalam ketenaran dan gelimang harta.

Namun apa daya, aku hanya seorang gadis kecil polos yang hidup dalam khayal setiap waktu. Aku tak peduli akan realita hidup yang keras dan terus bermimpi. Masa kecilku kuhabiskan dengan mencari eksistensi dari pengetahuan, goresan pensil, krayon, nyanyian dan keberaian untuk bicara. Benar saja aku merasakan menjadi idola di sekolah karena kepintaranku. Berat rasanya harus menjaga imaji sebagai seorang gadis kecil yang cerdas. Bagaimana kalau aku menjadi idola di atas panggung atau di layar kaca?

Impianku untuk menjadi idola kandas di tengah jalan, saat aku beranjak remaja. Aku menemui banyak saingan, mereka yang lebih rupawan, cerdas, berbakat, dan dari latar belakang keluarga yang mapan. Sementara aku bukan apa-apa dibanding mereka, bahkan anak-anak itu hanya menganggapku sampah. Tubuhku mungil dengan wajah standar. Orang tuaku tidak tergolong mampu. Aku tidak bisa bernyanyi, bermain musik, menggambar dengan baik, olah raga ataupun bicara di depan umum. Yang aku bisa hanya menulis dan berkhayal.

Aku merasa tidak ada hal yang bisa kubanggakan dalam diriku. Namun pecutan itu malah membuat diriku semakin bersemangat untuk menjadi idola agar mereka yang menjauhiku malah tertarik seperti magnet.

Pada masa remaja akhir aku kembali menjadi idola banyak orang karena kepandaian dan kebaikanku. Kepandaian dan kebaikan ini mereka tidak hargai, namun mereka manfaatkan untuk kepentingan mereka. Aku menjadi semakin pesimis, berpikir bahwa aku tidak akan pernah menjadi idola kalau begini caranya. Dimanfaatkan, didekati karena kasihan, lalu dijauhi.

Yah, seorang idola pasti memiliki kaum yang membenci mereka karena iri, bukan? Mungkin suatu saat mereka akan berbalik menjadi fansku. Lagipula kaum pembenci adalah fans yang tertunda.

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai merasakan silaunya sorotan sinar panggung yang baru. Aku semakin mengembangkan bakat menulis dan menggambarku tanpa mempedulikan hasil karya orang lain yang lebih baik. Apa daya, mereka adalah mereka dan aku adalah aku. Jadi, aku melakukan itu semua untuk diriku sendiri. Bukan untuk mendapatkan sanjungan orang.

Sanjungan itu hanyalah bonus.

Ketika bibir-bibir itu memujiku secara langsung maupun diam-diam, aku hanya dapat tersenyum. Aku tidak menyadari kalau hal sekecil apapun bisa meroketkan aku menjadi idola. Mungkin salah satu kunci untuk menjadi idola hanyalah menjadi diri sendiri dan percaya dengan hasil jerih payah yang kulakukan.

Menjadi idola di lingkup keluarga dan teman saja sudah membuatku bahagia. Aku tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memperluas jumlah pengagumku. Siapa tahu aku bisa menyamai para aktor, musisi, dan tokoh politik yang selama ini kukagumi. Tentunya karena prestasi yang selama ini kuukir.

#NulisRandom2015

Senin, 15 Juni 2015

day 15: rumours has it

Bukan, aku tidak akan membahas mengenai lagunya Adele atau masalah rumor mengenai artis yang dikabarkan pacaran. Aku sangat tidak suka orang-orang di media sosial yang sekarang begitu mengkambinghitamkan wanita dalam masalah percintaan yang belum jelas kebenarannya. Wanita harusnya saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. Memangnya, apa yang salah dengan mencintai pria idaman banyak orang?

Ironisnya yang melakukan hal itu adalah sesama perempuan. Para perempuan itu berpikir bahwa si perempuan yang menjadi korban ini pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkan pria tampan dan kekayaan berlimpah. Mereka tidak pernah tahu ada apa di balik layar. Apa dasarnya mereka beranggapan seperti itu kalau tidak cukup bukti untuk mengatakan dia murahan?

Cemburu? Merasa kalah? Sampai sekarang aku tidak tahu standar wanita terhormat itu seperti apa.

Semua yang mereka lakukan itu hanya membuang waktu mereka saja. Coba bayangkan untuk apa mereka mengikuti para idola seperti pengintai dan mengklaim dialah calon suami masa depan. Di kala sang pujaan delusional dikabarkan sudah memiliki kekasih hati, sang "kekasih" itu kadang dihina.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk para idola kaum hawa saja, namun kaum adam secara keseluruhan. Bisa saja itu sebuah kabar yang tersebar di lingkaran teman tertentu.

Tunggu! Itu baru satu berita, kan? Hanya ada gambarnya, kan? Sekali lagi kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi sesungguhnya di balik layar. Bisa saja mereka hanya berkawan baik atau bersahabat sejak lama. Atau barangkali mereka baru bertemu untuk pertama kalinya dan belum ada hubungan apapun.

Mungkin juga itu hanya settingan individu atau media semata. Dan parahnya lagi salah satu pihak menggunakan kedok "kekasih" itu untuk menutupi kalau ia sesungguhnya telah belok ke arah lain. Apapun bisa terjadi, bukan?

Kalaupun berita itu memang benar, hal itu juga tidak sama sekali ada pengaruhnya terhadap mereka. Kenal mereka saja tidak, sampai ribut segala. Memangnya kau siapanya? Apakah dia yang di sana akan peduli?

Wahai kaum wanita delusional, coba kalian pikirkan lagi sebelum berbicara dan bertindak.

#NulisRandom2015

Minggu, 07 Juni 2015

day 7: fangirl

Gadis yang baru menginjak usia kepala dua itu tengah memeriksa peringatan di aplikasi WhatsApp di telepon gengggamnya. Isinya selalu sama, teman-teman yang menagih tugas-tugas dengan deadline yang dapat dikatakan tidak manusiawi. Kapan dia punya waktu untuk dirinya sendiri kalau begini caranya?

Resiko menjadi mahasiswa sekaligus gadis penggemar memang seperti ini. Selain belajar, gadis itu juga menghabiskan waktu luangnya untuk menikmati paras tampan dan cantik para idolanya. Paras tampan dan cantik? Gadis itu tanpa sadar sudah berbelok ke arah lain karena selain mengagumi pria tampan, ia juga terkadang memuji kecantikan wanita.

Memangnya siapa perempuan di dunia ini yang tidak ingin memiliki tubuh seindah Alessandra Ambrossio, secantik Dakota Johnson, atau semanis Mao Inoue? Apalagi ditambah pacar setampan aktor Hollywood atau drama serial Korea dan Jepang.

Pikirannya seperti terbagi menjadi dua bagian. Di satu sisi ia memikirkan tumpukan paper ujian akhir semester yang belum juga dikerjakannya. Otaknya tidak kuat lagi untuk memikirkan apa yang akan ditulisnya. Dua makalah kelompok, satu makalah pribadi dan satu esai. Masih lebih baik ia harus mengumpulkan makalah saja, ada satu matakuliah yang juga memaksanya untuk ikut ujian dalam kelas. Bukannya tidak tahu cara mengerjakannya, tetapi ia selalu bingung mau menulis apa di lembaran MS Word itu. Dosen-dosen ini rempong amat. Apa sebenarnya selama ini ia terdampar di tempat yang salah? Belum lagi ia harus mengerjakan rancangan sampul proposal penelitian kuantitatif. Intinya dia banyak pekerjaan.

Di sisi pikirannya yang lain, nampak para pria tampan dan wanita cantik yang tengah lalu lalang. Ya, mereka yang hanya menjadi bahan fantasinya di alam mimpi semata dan tidak akan pernah ia sentuh. Para incubus dan succubus berkedok idola panggung itu mengeluarkan tatapan mata dan senyuman seduktif dalam foto-foto. Manusia-manusia berparas menggemaskan maupun menawan tengah berpose sugestif, seakan mereka akan melakukan hal yang sama dengan apa yang diceritakan di fiksi-fiksi penggemar.

Mungkin mencari asupan mengenai "hubungan" antara para idola panggung itu, bisa membuat pikirannya segar kembali untuk mengerjakan tugas paper yang menumpuk. Siapa tahu saja foto-foto erotis di majalah AnAn atau momen-momen di mana pairing favoritnya berpose imut bisa membakar semangatnya kembali untuk membuat makalah mengenai konflik elit politik di Poso.

#NulisRandom2015