Tampilkan postingan dengan label juni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label juni. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2015

day 2: he's (not that) innocent

Sinar matahari musim panas yang sedikit terik membangunkan Melanie dari alam mimpi. Jemari wanita berambut pirang sepunggung itu mengusap-usap kedua matanya yang hijau. Lelah dan bingung, itulah yang dirasakannya pagi ini.

Kesunyian malam beberapa jam lalu, telah membuat mereka tenggelam jauh dan asyik sendiri. Ya, hubungan mereka yang disembunyikan selama ini telah dihancurkan oleh kebodohan semalam.  Ia ingin pergi karena ia tidak ingin menghancurkan semuanya, namun rasa lelah di sekujur tubuh menghalanginya.

Wanita itu berusaha bangkit sejenak, ditatapnya pria berkulit putih susu yang sejak tadi terbaring di sampingnya. Wajah Nino memang selalu nampak damai saat ia tertidur pulas. Penampilannya yang tidak begitu diperhatikan menciptakan imaji bahwa pria itu seperti anak-anak yang belum begitu peduli untuk mempermak kemasan luarnya. Tangan kanan wanita itu menyibak lembut rambut hitam yang menutupi dahi Nino.

Bentuk alisnya yang berantakan tidak pernah ia ubah semenjak mereka pertama kali bertemu beberapa bulan lalu. Nino selalu mengatakan pada Melanie bahwa ia tidak pernah merasa percaya diri dengan bentuk wajah besar dan sepasang pipi gempal yang dimilikinya. Melanie merasa bahwa fitur khas itu telah membuktikan hipotesis awal yang telah dipikirkannya, yakni ia adalah pria yang begitu sederhana. Di kala orang lain meletakkan banyak make-up bahkan melakukan operasi pada fitur yang jelek tersebut, ia entah kenapa tetap mempertahankannya.

Yah, mungkin karena pria itu memang tidak suka membuang-buang uang untuk hal yang tidak perlu baginya. Melanie sudah cukup tahu kalau penampilan bukanlah kebutuhan dasarnya. Nino memang seorang idola sejati yang berusaha menjadi seperti orang biasa.

Wanita itu membungkuk sejenak dan mengecup dahi Nino. Gemas rasanya, kalau pria yang kelihatannya begitu sederhana, polos dan lugu dapat melakukan hal yang tidak pernah diperkirakan seperti semalam tadi.

Melanie selalu suka kejutan-kejutan tidak terduga yang diberikan pria berwajah manis itu. Sulit bagi wanita itu untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Nino, namun isyarat-isyarat yang selama ini ditunjukkan satu sama lain sudah berbicara banyak tentang mereka.

#NulisRandom2015

day 1: dia (spora)

Dia tidak pernah tahu istilah apa yang tepat untuk mendeskripsikan dirinya.

Apakah dia adalah seseorang yang merantau karena kemauan sendiri? Ataukah dia satu dari sekian banyak orang yang meninggalkan tanah kelahiran? Mungkin keduanya.

Butuh waktu baginya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Dia pernah menceritakan padaku bahwa mereka yang belum pernah ke sana, pasti akan beranggapan bahwa tempat ini akan romantis menurut gambar-gambar manis di halaman buku dan majalah. Namun, keberadaannya di sini adalah suatu ancaman tersendiri baginya.

Satu titik di mana dia kehilangan identitasnya sendiri adalah saat ayahku menitipkan pemuda itu di tempatku. Ia yang kukenal, seorang pria muda tangguh yang tetap memegang adat ketimurannya. Dia tak peduli dengan dunia yang semakin terhomogenisasi dengan kultur Barat. Pria muda itu seorang pembelajar yang cepat dan pekerja keras. Terkadang kehausannya akan pengetahuan membuatnya lelah sendiri.

Kuharap kehadiranku membuatnya betah hidup di negeri yang begitu asing baginya.

Dia begitu kuat sampai bersikeras kalau dia mampu menjaga dirinya. Persis dengan anak kecil yang harus kujaga perilakunya agar tidak sesat di tempat yang katanya neraka ini. Aku memperlakukan dia seakan seperti saudaraku sendiri. Kularang dia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan normanya. Sayangnya, keinginanku untuk menjaga pemuda yang rapuh di dalam itu malah bertumbuh ke arah sesuatu yang lain.

Pelan-pelan, rasa sayangku padanya merusak dia. Membuat dia meragukan siapa dirinya yang sejati. Aku menaruh hatiku padanya. Tatapan laparku dilontarkan ke arah sepasang obsidian itu, dari ujung rambut sampai kaki. Malam itu, dia mengorbankan segala prinsip yang dipegangnya selama ini.

Semua keteguhan dan kekuatannya sirna sudah pada malam yang tenang itu. Dia mungkin bukan lagi dia yang kukenal. Bisa saja dia sudah melepaskan semua tetek bengek prinsip, norma dan nilai itu.

Dia dan aku berputar-putar dalam sebuah permainan identitas majemuk.

Sampai sekarang dia tidak tahu apa kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya. Seorang perantau, ataukah salah satu dari para perantau?

Dan apa istilah yang tepat untuk menjelaskan tentang aku?

Apakah aku seseorang yang menyediakan rumah baginya sama seperti teman-teman sebangsanya? Ataukah aku hanya membuatnya semakin rapuh dan tersiksa di sini?

#NulisRandom2015