Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 April 2014

Der Perfekte Mann

WARNING: DON'T BE FOOLED BY THE TITLE. YOU'VE BEEN WARNED.




Der Perfekte Mann

by: ainasiegrieda a.k.a. Anya Teresa


source


CHARACTERS COPYRIGHT CLAIM:

Dieter Eisenschmidt, Toshiro Kanegawa and Elise Weistdijk (c) me
Mo Kai Ling and Anneliese Leong (c) FrauPhan
Thomas 'Tom' McKinnon (c) seerstella
Dannias Rainsnight (c) Azzura Raven Hexium


Berantakan dan cuek terhadap penampilan, itulah stereotipe yang melekat pada mahasiswa Fakultas Teknik. Namun, pengecualian dapat diberikan pada Dieter Eisenschmidt, seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin tahun ketiga. Mahasiswa asal Jerman tersebut menjadi idola para wanita di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Fakultas Ilmu Budaya (dan mereka nggak tahu kalau Dieter sudah punya pacar seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi).Hal ini disebabkan oleh penampilan pria muda tersebut yang berbanding terbalik dengan mahasiswa Fakultas Teknik pada umumnya, penampilannya selalu nampak sangat rapi dan diperhatikan kemanapun dia pergi. Bahkan Dieter sangat benci apabila saat menyisir rambut pirangnya, ada sehelai rambut yang tidak terbawa. Gaya berbicaranya juga sangat kaku, seakan dia berusaha agar tidak ada kesalahan pengucapan satu kata atau satu huruf sekalipun.

"Kenapa rambutku yang ini jatuh terus, ya? Sepertinya rambutku ini memang sulit diatur?" tanya Dieter saat berkaca di cermin kamar mandi dan menyisir rambut pirangnya.

"Ya, ampun Dieter-senpai! Itu kurang rapi apa, coba? Rapi banget kalau aku lihat..." gumam Toshiro, teman sekamarnya yang menunggu di luar kamar mandi.

"Tapi aku tidak suka kalau rambutku ada yang tertinggal..." ucap pemuda itu sambil terus menjinakkan rambut liarnya. "Ah, sepertinya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi... Toshiro, tolong ambilkan gunting."

"Eeh? Buat apa, Dieter-senpai?" tanya Toshiro bingung melihat tingkah seniornya yang satu ini.

"Cari saja di lemari, jangan sampai dokumen-dokumen penting Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik berantakan karena ulahmu. Turuti kata-kata seniormu bisa atau tidak?" tanya Dieter.

Pemuda Jepang berusia 18 tahun itu refleks membungkukkan badannya dan pergi ke arah laci-laci di lemari pakaian untuk mencari sebuah benda yang dinamakan gunting. Setelah menemukan gunting kertas di bawah tumpukan dokumen organisasi, Toshiro mendekati seniornya tersebut sambil menunjukkan gunting kertas yang dia temukan tadi.

"Senpai, apa ini gunting yang kau cari?" tanya Toshiro sambil menunjukkan gunting kertas tersebut.
Dieter hanya menoleh pada Toshiro dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maksudku gunting rambut. Bukan gunting kertas."

"Lah? Sama saja gunting, kan? " pikir Toshiro.

Pemuda Jepang tersebut kebingungan dan mencoba mengingat apakah ada gunting rambut di kamar mereka. Firasat Toshiro mengatakan bahwa tidak ada gunting rambut di kamar mereka. Jadi, mungkin terpaksa dia harus mencari gunting rambut di kamar tetangga.

"Memangnya ada gunting rambut di kamar kita, Dieter-senpai?"

Yang ditanya hanya cuek saja, seakan-akan menyuruh Toshiro untuk mencari gunting tersebut di laci meja kecil di samping tempat tidur mereka. Toshiro merasa sial harus sekamar dengan senior yang seaneh itu, semuanya harus rapi, bersih dan pada tempatnya. Ribet, pikirnya. Akhirnya ketemu juga, Dewi Fortuna kali ini berpihak padanya. Toshiro tidak harus mencari gunting rambut sampai ke kamar tetangga.

"Ini, senpai." ucap Toshiro sambil menyerahkan gunting tersebut. Dieter segera mengambil gunting tersebut dan menggunting anak-anak rambutnya yang dianggap mengganggu, kemudian membuangnya ke tempat sampah dekat wastafel.

"Memangnya ada apa rapi-rapi seperti itu, senpai?" tanya Toshiro melihat seniornya memakai polo shirt dan celana jeans seakan-akan mau pergi ke suatu tempat.

"Elise akan berkunjung ke sini dan sebagai pria aku malu untuk tampil berantakan di depan wanita." jawab Dieter. Toshiro hanya mengangguk mendengar penjelasan Dieter.

****

TOK! TOK! Terdengar suara pintu kamar diketuk.

"Siapa disana?" tanya Toshiro.

"Aku mau nyari Dieter. Dieternya ada?" tanya suara perempuan di balik pintu. Dieter yang sangat mengenali suara perempuan itu, langsung membukakan pintu. Ternyata di balik pintu kamar sudah berdiri seorang gadis Kaukasia bertubuh tinggi dan berambut coklat terang bersama dengan seorang gadis Asia bermata sayu yang membawakan sekotak kue black forest.

"Liebchen, tidak seperti biasanya kamu bersama dengan Mo?" tanya Dieter pada perempuan tersebut.

"Iya...jadi tadi aku main ke rumahnya Mo. Terus bikin kue bareng. Ini kuenya buat kamu..." jawab gadis Kaukasia itu lembut sambil menyerahkan sekotak kue tersebut.

"Danke schön, liebchen. Kalian masuk saja, maaf kalau kamarnya berantakan. Sebab sudah sehari yang lalu tidak aku bersihkan..." ucap Dieter. Kedua gadis itu saling berpandangan setelah masuk dan melihat kamar kos Dieter dan Toshiro yang terlampau rapi untuk ukuran kamar yang dihuni dua orang pria. Bahkan, wanita-wanita seperti Elise dan Mo saja kalah rapi.

"Ini udah rapi banget, Dieter. Bahkan cewek aja kalah." kata Mo, si gadis Asia itu. Elise segera meletakkan kue tersebut di atas karpet agar dapat dimakan berempat.

"Kalau Toshiro dan Mo mau makan kuenya, makan saja." ucap Elise. Kedua orang Asia itu mengangguk pelan.

Dieter memperhatikan kue di atas karpet yang berbentuk lingkaran dan terdapat empat buah ceri di atasnya.

"Jadi, kue ini bentuknya lingkaran...ada empat orang. Berarti bisa dipotong empat, supaya satu orang dapat satu ceri." gumam Dieter pelan. Ketiga orang yang lain hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu memang sudah jelas.

Tiba-tiba muncul seorang pria muda berambut merah yang memakai kemeja putih dan celana bahan di depan pintu kamar kos dan memperhatikan kue tersebut.

"Permisi...sepertinya lezat...aku boleh minta kuenya? Apa ada yang ulang tahun?" tanya Tom McKinnon, nama mahasiswa jurusan Teknik Geologi di depan pintu tersebut yang ternyata tetangga kos mereka.

"Boleh saja...ayo masuk." ucap Toshiro, kemudian tersenyum.

"Kita ada lima orang, jadi kuenya dibagi lima. Terus...cerinya harus dipotong jadi lima bagian dan masing-masing orang dapat empat." ucap Dieter sambil memotong-motong ceri tersebut. Sementara itu Tom, Toshiro dan Mo hanya bisa cengo melihat tingkah pria keturunan ras Aria tersebut. Kemudian Dieter menunjukkan ceri yang sudah dipotong kecil-kecil sambil menunjukkan senyum termanisnya.

Di depan pintu kamar mereka mendadak lewat seorang gadis berambut hitam panjang yang merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Gadis yang memakai gaun biru tua itu berhenti sejenak dan memandang kue coklat yang nampaknya lezat tersebut.

"Anneliese, kamu mau kue yang aku buat bareng Elise?" tanya Mo. Gadis yang dipanggil dengan nama Anneliese itu mengangguk pelan.

"Enam orang...jadi kuenya dibagi enam. Lalu...potongan cerinya harus dipotong-potong menjadi tiga bagian...supaya satu orang dapat sepuluh potong ceri." gumam Dieter yang mulai kesal sambil kembali memotong-motong ceri tersebut, kemudian menunjukkan ceri yang sudah dimutilasi seperti potongan wortel dalam salad.

"Di, kamu mau bikin salad atau makan kue? Aku bingung sama kamu..." ucap Anneliese. Pemuda itu tidak merespon sama sekali. Teman-temannya hanya dapat berharap agar tidak ada orang lain lagi yang masuk ke kamar kos mereka. Namun harapan itu musnah, saat mereka melihat Dannias, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris berambut pirang yang memakai kaos hitam, celana jeans dan jaket abu-abu.

"Aku boleh minta kuenya?" tanya Dannias.

"Kurasa Dieter akan semakin parah dan tidak sabaran lagi menghadapi masalah ceri ini." ucap Elise.

"Dari mana kau tahu?" tanya Mo penasaran.

"Tujuh orang...kue dibagi tujuh...berarti cerinya...AAAAARRGH! Mana mungkin bisa kupotong dalam jumlah kelewat banyak! Bagaimana ini?" ujar Dieter yang mulai emosian.

"Dia semakin kambuh saja gangguan obsesif kompulsifnya..." gumam Elise. Sementara itu Dieter yang sudah tidak dapat menanggung ceri di atas kue tersebut berakhir melempar kue tersebut ke luar jendela.

"Senpai, kenapa kuenya dilempar ke luar jendela? Elise sama Mo nggak apa-apa kuenya dibuang?" tanya Toshiro penasaran.

"Cerinya sudah tidak bisa dibagi rata, jadi lebih baik kita tidak usah makan kue sekalian. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf." ucap Dieter yang baru sadar kalau tadi gangguan obsesif kompulsifnya sudah kambuh. Pada akhirnya semua orang yang ada di kamar tersebut merasa kecewa karena gagal makan kue coklat.

"Aku sih nggak apa-apa...soalnya dia memang sering begitu kalau sudah mulai kambuh." ucap Elise.

****

Sementara itu di bawah sana seorang gadis berambut panjang kecokelatan yang memakai tank top berwarna merah dan hot pants berwarna hitam terkena lemparan kue dari Dieter yang kamarnya berada di lantai atas.

"Siapa, sih yang berani ngelempar kue ke arah gue? Sengaja, ya? Pasti itu antek-anteknya Megumi yang nggak suka sama gue! Gue yakin itu, dia pasti iri karena kecantikan gue dan pengen ngerebut Friedrich dari gue! Awas, lo!"  umpat gadis itu dalam hati saat mengetahui dirinya terkena lemparan kue coklat.

A/N: Kalau baca dari judulnya dan gambarnya pasti ngiranya bakalan nulis romance unyu-unyu, kan? Hahaha...jadi buat cewek-cewek boleh aja nyari Mr. Perfect tapi sabar-sabar aja kalau dia udah kelewat perfect (ini maksudnya apa?). Review yang membangun sangat diharapkan,lho :)

Senin, 27 Januari 2014

die Regierung der Zeit

source


Running, running
I kept on running
Seems like someone is watching me
He followed me around
Everywhere I go

What does he want from me?
Did he wanted to possess myself
Or just making me as his tool?
I don't know

I supposed he wanted a revenge
For the dark memories
That I'll never recall

Honestly,
I still regret those damn memories
I could say,
I'm not having that sign on my left arm (anymore)
(But) I do believe, karma does exist

I wish he could take me back to erase the memories
Change the history
Help me, I'm helpless
He always pulling me forward

Until I got exhausted
I decided giving up
I'm falling down into the ground
Looking at him for the last time

He stops following me
And dropped three swords from his hand
My soul flees into the sky

"Auf Wiedersehen, meine Zeit"


A/N: Tumben Author nulis pake bahasa Inggris,  nulis puisi gaje ini lagi...ya sudah saya minta beta dan kritik sarannya.

Kamis, 02 Januari 2014

Alitajunnan


Alitajunnan: Subconcious Thoughts (Finnish)

source


Hari sudah malam, dan musim dingin telah tiba di belahan bumi Utara. Hari yang bersalju membuat orang-orang di sebuah kota metropolitan yang terletak di belahan bumi Utara merasa malas untuk keluar dari persinggahan mereka masing-masing. Meski begitu, hiruk pikuk khas ibukota negara masih sangat terasa.

Jam dinding sudah menyatakan pukul setengah delapan malam, seorang pemuda berambut cokelat gelap membuka sebuah lemari es di apartemennya untuk mengecek persediaan minuman keras. Mata pemuda itu tertuju pada bagian bawah kulkas yang kosong, di mana biasanya pemuda tersebut menyimpan stok minuman kerasnya selama musim dingin berlangsung.

"Huh! Cepat sekali stok minuman keras itu habis. Malas sekali rasanya kalau aku harus keluar untuk membelinya." keluh Antti, nama pemuda itu. Jangan tertawa membaca namanya, karena nama-nama lelaki di kota itu memang aneh-aneh.

Pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahunan itu segera mengambil mantelnya yang digantung di sebelah kiri pintu apartemennya dan mengecek dompet kulit yang diletakkan di dalam saku celananya untuk mengetahui berapa banyak uang yang masih dia miliki. Syukurlah uangnya masih ada sekitar 150 Euro, cukuplah.

Dia melangkahkan kedua kakinya keluar dari apartemen dengan malasnya hanya untuk pergi ke sebuah toko yang jaraknya hanya berselang satu setengah kilometer dari apartemennya. Sudah setengah kilometer pemuda bertubuh tinggi itu berjalan, dia merasa terkejut melihat sesuatu yang ada di sebelah kanannya. Ada seorang gadis bertubuh mungil yang sedang tidak sadarkan diri dan bersandar pada tiang listrik. Sekujur mantel biru tua gadis itu dipenuhi dengan kepingan salju berwarna putih dan kulit gadis itu nampak pucat kemerahan. Mungkin gadis itu tidak tahan dengan dinginnya kota tempat tinggal pemuda itu. Pemuda itu berjongkok sejenak, kemudian menyibakkan rambut cokelat terang gadis yang sedang tidak sadarkan diri tersebut untuk melihat wajahnya.

Gadis itu berbeda dengan gadis-gadis lain yang berada di kota tempat si pemuda itu tinggal. Selain karena tubuhnya yang mungil, dia juga tidak berambut pirang seperti kebanyakan gadis yang dikenal oleh pemuda itu. Hidungnya juga lebih bangir daripada gadis-gadis yang berada di kota itu. Itu berarti, gadis itu tidak berasal dari kota ini. Mungkin dia berasal dari luar kota...ataukah luar negeri?

"Dia manis juga, bolehkah aku membawa gadis asing ini pulang?" batin Antti sambil mengelus pipi gadis itu perlahan,"Kulitnya mulus sekali."

Antti langsung melupakan niat awalnya keluar dari persinggahan untuk membeli stok minuman keras selama musim dingin. Mungkin karena Antti iba melihatnya atau terpana melihat kecantikan gadis asing tersebut. Perlahan-lahan dia mengangkat tubuh mungil gadis itu, gadis itu terasa sedikit berat di kedua tangannya mengingat tubuh Antti yang tingginya mencapai 185 sentimeter -- sedikit lebih tinggi daripada rata-rata lelaki di negaranya dan berat badannya yang cenderung underweight. Terpaksa pemuda itu harus berjalan cepat membawa si gadis asing tersebut dan barang-barang bawaannya ke dalam apartemennya untuk mencegah hal yang buruk terjadi padanya.

***

Pemuda itu segera membaringkan si gadis asing di tempat tidurnya. Antti menyentuh mantel yang dipakai oleh gadis itu, bahannya terlalu tipis untuk cuaca sedingin ini.Perlahan-lahan tangan pemuda itu membuka mantel yang dipakai oleh gadis itu, dan menggantinya dengan mantel yang dipakainya.

"Nah, sekarang kamu akan merasa lebih hangat di sini..." bisik Antti dengan nada lembut sambil mengangkat tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat.
"Terima kasih banyak...sekarang aku sudah merasa sedikit lebih baik." terdengar sebuah suara lembut yang entah dari mana asalnya.
"Suara siapa itu?" tanya Antti sambil mencari-cari sumber suara di dalam kamar itu, "Tidak ada siapa-siapa, selain kita berdua."
"Ini suaraku...yang sedang terbaring di atas ranjangmu. Siapa kau?" suara lembut itu terdengar lagi. Antti menatap si gadis asing yang terbaring di atas ranjangnya. Mulutnya tidak terbuka sama sekali, mana mungkin dia berbicara? Sudah begitu dari tadi suara lembut itu berbicara dalam bahasa Jerman, tetapi entah mengapa Antti bisa mengerti apa yang "dikatakan" oleh gadis itu. Mungkin dia harus mencoba lagi "berbicara" dengan gadis itu.
"Aku Antti, yang membawamu sampai ke sini. Siapa kamu? Pasti kamu tidak berasal dari sini, kan?" tanya Antti sambil terus menggenggam tangan gadis itu.
"Namaku Nadine Liebhart. Benar, aku lahir di sebuah kota yang berada di dekat Pegunungan Alpen. Kau pasti berasal dari kota ini, kan?" jawab suara itu lagi.
"Tidak, aku dilahirkan di Rovaniemi. Sebuah kota yang jauh dari sini. Tapi aku sudah lama tinggal di sini. Kamu kenapa ada di sini?"
"Kau tidak perlu tahu jawabannya, karena aku memang merahasiakan keberadaanku di sini."
"Oh...ya sudah kalau begitu. Omong-omong,jari-jari tanganmu begitu lentik, apakah kamu suka bermain musik?" ucap Antti sambil merasakan jemari gadis itu.
"Sudah sejak kecil aku belajar bermain piano dan biola. Orang-orang di negeriku dikenal dengan bakatnya bermain alat musik. Bagaimana dengan di sini?"
"Aku juga suka bermain alat musik, di mana-mana musik pasti ada. Kalau di negerimu ada, pasti di negeriku juga ada."
"Benarkah? Kalau begitu coba kau ninabobokan aku."
"Baiklah kalau itu maumu..." bisik Antti. Kemudian pemuda itu bernyanyi sebuah lagu ninabobo yang dikenalnya sejak kecil.

"Nuku, nuku, nurmilintu  Go to sleep, bird of grass
Väsy, väsy västäräkki. - Get tired, wagtail
Nuku, kun mie nukutan, - Sleep while I'm putting you to sleep
Väsy, kun mie väsytän. - Get tired when I'm making you tired

Nukuta, jumala, lasta. - Put, my God, a child to sleep
Makauta, mariainen. - make her, little Virgin Mary, to lay down
Kuro kiisan silmät kiinni - close Kiisa's eyes
Anna unta aamuun asti - give her a dream until morning
Kuro kiisan silmät kiinni - close Kiisa's eyes
Anna unta aamuun asti - give her a dream until morning"

Seusai menyanyikan lagu ninabobo tersebut, suara itu terdengar lagi: "Suaramu bagus sekali, aku jadi mengantuk...selamat tidur Antti."
"Bolehkah aku berbaring di dekatmu?"
"Tentu saja, dan peluk aku dengan lembut. Aku kedinginan." pinta suara itu. Antti segera berbaring di sebelah kanan Nadine, dan tanpa sadar tangannya memeluk pinggang gadis itu.

***

Antti terbangun pada pagi itu, dan mendapati Nadine sudah tidak ada di pelukannya. Pemuda itu berjalan keluar kamar dan menemukan gadis berambut coklat terang sebahu itu sedang duduk meminum kopi di ruang makan. Antti segera mendudukkan diri di bangku yang terletak di depan bangku gadis itu.
"Nadine? Ternyata kamu berada di sini?" tanya Antti saat melihat sosok gadis itu.
"I'm sorry, I don't understand every word you say. And from where do you know my name?" ucap Nadine dalam bahasa Inggris, dengan suara yang sama seperti semalam. Antti kaget, mengapa tiba-tiba gadis itu berbicara dalam bahasa Inggris? Padahal semalam Antti berbicara pada gadis itu dalam bahasa Finlandia, dan dia mengerti apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
"Aku tahu namamu dari..." kata Antti sambil mengobok-obok tas tangan yang diletakkan gadis itu di atas meja sampai dia menemukan sebuah kartu berwarna krem, "Kartu identitasmu!"
"Oh, dari kartu identitasku. Kau Antti, bukan? Yang semalam membawaku ke sini?"
"Kok tahu?" tanya Antti bingung. Jangan-jangan...suara lembut semalam itu...
"Alam bawah sadarku semalam mendengar suaramu itu," jawab Nadine.
"Alam bawah sadar?"
"Ya, alam bawah sadar."
"Kurasa semalam aku berbicara sendiri dalam bahasa Finlandia, dan ada suara wanita yang berbicara dalam bahasa Jerman di kamarku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa mengerti bahasa Jerman, padahal seingatku seumur hidup aku tidak pernah mempelajari bahasa Jerman." kata Antti.
Nadine menyeruput kopinya kemudian berkata: "Apapun bisa terjadi di alam bawah sadar, Antti. Aku juga bingung mengapa aku bisa mengerti kata-kata seorang pria yang berbicara dalam bahasa Finlandia. Jadi semalam itu, kita sebenarnya sedang berbicara satu sama lain dan bisa saling mengerti biarpun kita berbeda bahasa."
"Oh, jadi begitu. Jadi, sebenarnya kita berdua punya kemampuan telepati?"
"Bisa dibilang begitu. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kau minum kopinya saja. Orang-orang di sini juga suka minum kopi, bukan?" ucap Nadine sembari menuangkan kopi dari ceret ke cangkir, dan menyerahkan cangkir itu ke tangan Antti.
"Dan, orang-orang di Finlandia dan Austria juga sama-sama menyukai musik."
"Eh? Dari mana kau tahu kalau aku orang Austria?" tanya Nadine bingung sambil mengerinyitkan dahinya.
"Dari kartu identitas juga. Kan, di setiap negara Eropa kartu identitasnya beda-beda. Kartu aku warnanya biru, punyamu warna krem." jawab Antti.
"Kau berbohong, kan? Bilang saja kau tahu dari telepati kita semalam." kata Nadine, kemudian dia tersenyum. Antti membalas senyumannya, kemudian tertawa dan mendorong bahu gadis itu. Gadis di depannya juga ikut tertawa.

A/N: Inilah akibat pas liburan kuliah yang lama banget, dicekokin drama Taiwan melulu setiap malem. Jadilah #365DaysProject hari kedua kacau balau seperti ini. Tokohnya orang Eropa tapi plotnya kayak MV-nya Davichi yang digabung sama drama di D**I TV. 

Rabu, 01 Januari 2014

Moving On

Halo! Ini Anya balik lagi setelah udah lama hiatus karena UAS dan libur Natal. Sekarang Anya mau ngepost project 365 days drabble yang ada di blognya  Asha Debora. Ya, udah...sorry kalau ini sampah dan nggak jelas. Kata-kata yang dipakai di situ: Kenangan, Wash Away Bad Memories sama Kerai Kayu (tapi di sini aku ganti jadi kardus, sama-sama kotak kan?)

sumber


Malam Tahun Baru identik dengan keluarga atau pasangan yang menghabiskan waktunya bersama-sama, entah mereka mau menghabiskannya di rumah maupun di luar. Namun, hal itu sama sekali tidak terjadi pada Anita. Malam itu, Anita sendirian di rumah. Kedua orang tuanya masih dalam masa dinas di luar kota, sedangkan teman-temannya pasti sedang merayakan malam Tahun Baru-nya masing-masing.

Anita berpikir matang-matang, bagaimana cara membunuh waktu agar tidak terasa apabila besok sudah berganti tahun. Tiba-tiba tercetus ide di kepala gadis itu.

Bagaimana kalau dia membereskan kamarnya yang selama ini sangat berantakan selagi menunggu pergantian tahun?

Gadis itu memunguti barang-barang yang berceceran di lantai kamarnya, dan mengembalikannya ke tempat seharusnya mereka berada, menyapu dan mengepel lantai kamarnya, kemudian membersihkan debu yang bertebaran di rak dengan kemoceng. Pekerjaan Anita terhenti pada saat dia menemukan sebuah kotak berdimensi 30x30x50 sentimeter yang ditemukan di salah satu bagian lemari pakaian.

****

Anita memutuskan untuk duduk dan beristirahat sejenak dan melihat-lihat isi kotak yang sudah lama tidak dia sentuh. Gadis itu membuka kotak tersebut, dan ternyata isinya adalah barang-barang pemberian para lelaki yang selama ini pernah dekat dengannya.

Tangan Anita mengambil sebuah kotak tipis berisi sebuah CD musik dari dalam kotak tersebut. Anita ingat betul apabila CD itu dia dapatkan dari Rio, seorang laki-laki baik hati yang pernah berhubungan dengannya. Sayang sekali, Rio sudah meninggal dunia tiga bulan yang lalu karena penyakit kanker.

Mengingatnya, air mata Anita mulai menitik dan mengaliri kedua pipinya.

Anita segera melemparkan CD tersebut ke tempat sampah, dan mengorek-ngorek kembali. Kali ini, gadis itu menemukan sebuah boneka beruang berukuran kecil. Ini dari siapa, ya? Oh, iya! Boneka itu adalah pemberian dari Johan. Gadis itu sudah tidak mau lagi mengingat orang tersebut, hubungan mereka berakhir setahun yang lalu karena Johan ketahuan selingkuh dengan Risa, sahabatnya.

Sambil terus menangis, boneka itu kembali dia lemparkan ke tempat sampah.

Kemudian, Anita menemukan sebuah buku komik. Dari siapa, ya? Oh, Fabi! Hubungan antara Anita dan Fabi juga berakhir menyakitkan, awalnya memang manis. Namun, pada akhirnya Anita menyadari kalau Fabi mengidap suatu abnormalitas. Fabi ternyata mengidap nijikon atau memiliki fetish terhadap karakter dua dimensi di film animasi Jepang. Hal yang membuat laki-laki itu menyukai Anita adalah karena menurutnya Anita mirip dengan tokoh kartun yang dia sukai itu.

Buku komik itu kembali melayang ke tempat sampah. Satu demi satu barang yang mengingatkannya pada suatu kenangan pahit melayang ke tempat sampah. Setelah kotak itu kosong, Anita menangis karena menyadari perjalanannya mencari cinta selama ini selalu gagal. Selalu berakhir seperti ini -- tragis. Di sisi lain Anita merasa lega karena satu persatu kenangan buruk yang dia miliki berhasil dilenyapkan.

Anita memandang ke arah jam dinding, tak disadari jarum jam sudah menyatakan jam dua belas malam. Tahun yang lama sudah berlalu, lembaran yang baru sudah dibuka.

Sudah, lupakan saja mereka semua. Mereka mungkin bukan orang yang ditakdirkan untukmu. Itu sudah menjadi masa lalu, sekarang jalani saja hidup ke depan.

"Selamat Tahun Baru, semoga di tahun ini kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintaimu dengan tulus dan menerimamu apa adanya..." batin Anita dalam hati.

Gimana? Saya mengaharapkan kritik dan saran dari pembaca :)

Minggu, 15 September 2013

How to Name Your OCs?

Haaai...Anya balik lagi setelah banyak tugas kuliah yang numpuknya naujubilaah...sekarang Anya mau ngasih tahu kalian, gimana caranya ngasih nama karakter kalau kamu mau bikin cerita. Mungkin kalian nanya apa pentingnya nama, sih?

Nama, kan bagian dari identitas seseorang di mana kita bisa mengenal banyak hal tentang orang itu. Memangnya, dari nama itu kita bisa tahu apa aja, sih? Kalau kita tahu namanya, ada beberapa pertanyaan yang sebenernya udah ada jawabannya.

1.) Hallo, kamu dari mana asalnya ya?




Udah jelas kan, kalo Joko itu orang Jawa, Afung itu keturunan Tionghoa, Mariko itu pasti cewek Jepang, Friedrich cowok Jerman/Austria/Swiss and so on? Jadi...,kalian gak usah nanya sama orang (asing) yang baru kamu kenal kalo kamu tahu bagaimana tipe-tipe dan format namanya dia. Kebanyakan warga dunia pasti pake format nama depan plus nama belakang.

Contohnya gini, nih (maaf, ya pinjem nama anak orang bentar gapapa, kan?):
- Adrianne (pasti nama depan, kan nih?) Svensson (inilah marganya)
- Antti Iisalo (formatnya sama kayak di atas)

Antti? Dia itu cowok atau cewek sih?

Gimana ya, jelasinnya? Aku jadi bingung...ya udah mendingan jangan dibahas. Ntar bahasannya jadi panjang banget.

Nah, buat pengecualian...di Asia Timur, format nama kebalikan yang di atas. Do you need some examples? Okay!

- Kanegawa (ini marga) Toshiro (kamu panggil dia pakai nama ini)
- Kim Mi So (idem)

2.) Kamu anaknya siapa, sih?

Lo apain anak gue? Hah!


Lho, kok kita bisa tahu kalau dia anaknya siapa?

Ada yang pernah denger istilah patronym? Patronym itu bagian dari nama orang yang menandakan adanya garis keturunan dari bapaknya. Gak harus bapak juga, kakek atau kakek buyut juga bisa sih...pokoknya nama dari garis keturunan bapak itu ada di namanya. Biasanya ada di negara-negara yang pakai tradisi patrilineal atau menghitung garis keturunan bapak. Patronym ini paling common ada di nama belakang, biarpun sekarang udah jarang dipakai karena dianggep ngerepotin banget.

Ngerepotin gimana?

Ya, iyalah. Nama ada sekitar 200.000-an dan penduduk dunia ada 7 miliar. Berarti ada peluang buat banyak orang untuk punya nama yang sama, kan. Nanti kalau ditanya "Kamu anaknya Mr. John, ya?", terus bingung John yang mana saking banyaknya yang namanya John di dunia ini.

Tapi ada beberapa negara di dunia yang masih pakai patronym ini. Contohnya di Rusia dan di beberapa negara Eropa Timur. Ini aku kasih bagaimana format nama cewek dan cowok di Rusia sana.

-Cewek: (nama depan) + (nama ayah)-ovna/yevna/ichna (ini tergantung nama bapaknya siapa, ya?) + (marga)-ova
-Cowok: (nama depan) + (nama ayah)-ovich/yevich/ich + marga (-ov)

Bingung sama rumusnya? Sini aku kasih contoh penggunaannya. Misalkan, ada orang Rusia namanya Alexander Kuschenkov, punya dua orang anak. Namanya Ekaterina sama Vladimir. Kalau kita intip akte kelahiran mereka, jadinya bakalan kayak gini.

- Ekaterina Alexandrovna Kuschenkova
- Vladimir Alexandrovich Kuschenkov

Kasus patronym di nama belakang itu masih ada di sebuah negara yang bernama Eslandia. Ini beneran diturunin dari nama bapaknya. Seriusan? Ini ada rumus dan pembuktiannya.

-Cewek: (nama depan) + (nama ayah)-sdottir
-Cowok: (nama depan) + (nama ayah)-sson

Jadi, misalkan ada orang Eslandia namanya Johann. Dia punya dua orang anak cowok sama cewek, namanya Eirikur sama Kata. Di akte kelahiran resmi mereka sebagai warga negara Eslandia yang baik, ramah, sopan dan rajin menabung (halah!), nama mereka ditulis kayak gini.

-Kata Johannsdottir
-Eirikur Johannsson

Ternyata, negara tetangga kita Malaysia sama Brunei juga pake sistem patronym ini. Formatnya kira-kira sama kayak nama yang ada di batu nisan kuburan Islam di negara kita. Mau bukti? Sini aku pinjem nama anak orang yang gak pernah diurus sama bapaknya sendiri.

-Fazura binti Nan
- Haqeem bin Makmor

Ngerti, kan soal patronym? Ya, udah lanjut!

3.) Kamu tuh kaya, tajir, borjuis, miskin, kere, ato proletar?


Jangan macem-macem ama gue!
Cium jempol kaki gue, gak mau tahu!

Beneran, jangan berani-berani tanya kayak gitu ke orang yang namanya ada embel-embelnya. Bisa-bisa kamu langsung digampar sampe mati! Pokoknya hati-hati aja kalau kamu ketemu orang yang punya embel-embel kayak gini. Harus jaga sikap, merunduk dan cium (jempol) kakinya yang agung! Hahaha...nggak deng, menurut aku mereka juga manusia biasa seperti kita :)

- Jawa: Raden, Raden Mas, Raden Ayu, Raden Ajeng, dsb.
- Bali: Anak Agung, Gusti, Cokorda dsb.
- Makassar/Bugis: Andi, Daeng, Karaeng
- Aceh: Teuku, Cut
- Palembang: Nyimas, Kemas/Kiemas
- Jerman/Austria: pokoknya namanya ada von blabla, atau von der blablabla, bisa juga zu blablabla. Tapi kalo di Austria kamu gak bakalan ketemu orang yang namanya ada embel-embel kaya gini. Soalnya udah dilarang sejak tahun 1919. :)
- Perancis: du blablabla atau d'blabla
- Spanyol: de blablabla
- Swiss: von blablabla ato de blablabla

Lah, kenapa harus gitu? Karena menurut teorinya Karl Marx kalo gak salah orang-orang yang bisa punya embel-embel ini adalah kaum borjuis alias kaum orang-orang kaya yang keturunan BANGSAWAN. Ketauan kan seberapa berkelasnya dia?

Nah, gimana kalau yang kaum proletar alias kelas pekerja? Ternyata, beberapa nama belakang itu mencerminkan pekerjaan tertentu orang zaman dulu, lho. Tapi, orang kayak gini jangan langsung dicap miskin. Ini contohnya:

- Yang jagain penggilingan gandum: Miller, Millar, Muller
- Tukang roti: Baker, Backer
- Tukang kayu: Carpenter, Zimmermann, Carpentier, Carpentiro
- Tukang jahit: Taylor, Schneider dsb.

Semua yang aku jelasin sekarang tuh teori zaman dulu. Kalo sekarang udah gak berlaku mungkin.

By the way, ini ada sedikit tips kalau mau ngasih nama karakter tapi kepepet. Jadi...kamu main-main aja sama nama orang yang kamu kenal atau emang terkenal.

Gimana maininnya? Ambil nama-nama yang menurut kamu unik, terus jadiin satu pake salah satu rumus ini.

(Nama Depan + Nama Depan) = Ausi Dirgantara (dua-duanya nama depan seniornya Anya yang ketjeh badai *ditimpukinseniorpakailaptop)
(Nama Depan + Nama Tengah/Belakang)= Kezia Naftalia (Kezia nama temen Anya, Naftalia nama tengah guru Jerman Anya dulu pas SMA)
(Nama Tengah/Belakang + Nama Depan) kebalikannya yang atas = Yoanita Kirana (dua-duanya nama teman Anya)
(Nama Tengah/Belakang + Nama Tengah/Belakang)= Alaika Rahadian (dua-duanya nama belakang senpai Anya yang ketjeh badai lagi)

Jadi aneh-aneh, kan namanya? Hehehe...sorry ya semua orang yang merasa Anya pinjem namanya. Cukup segini dulu, ya! Lain kali kita bertemu di lain waktu, bye!