Selasa, 17 Juni 2014

Anak Rembulan

source
Sejak kecil, kegemaranku adalah memandangi langit siang dan malam. Namun, entah kenapa aku lebih ska memandangi langit malam. Setiap mataku memandangi langit malam, aku merasa bulan di saat purnama sangatlah indah, aku tersenyum berlama-lama memandangi bulan yang dikitari bintang-bintang.

"Nak, kalau kau memandangi bulan terlalu lama Ayah bisa kehilanganmu." ucap ayahku yang selalu memprotes kegemaranku dalam memandangi bulan. Kali itu aku memandang bulan, usiaku baru sekitar lima tahun. Memandangi bulan terlalu lama tidak akan membuat seseorang mati, kan? Logikanya dari mana? Ini tidak ada buktinya, pikirku.

"Ah? Aku tidak apa-apa, Ayah. Bulan purnama itu saja yang sangat indah. Memangnya kenapa, Ayah?" gumamku pada Ayah saat itu
.
"Ceritanya begini, Nak.  Alkisah hiduplah seorang laki-laki tampan di bulan yang dapat membunuh manusia yang melihat bulan terlalu lama dengan tatapannya yang mematikan." tutur ayahku waktu itu. Aku yang masih kecil langsung percaya dengan perkataan ayahku dan mulai berjanji untuk membatasi waktuku dalam melihat sang rembulan.

"Seberapa tampan laki-laki itu sampai membuat orang betah melihat bulan berlama-lama?" tanyaku lagi. Ayahku hanya tersenyum kecil dan bergurau untuk mencairkan suasana.

"Setampan kamu, Nak." ucap Ayah sambil mencolek daguku sejenak. "Tapi Ayah yakin, kamu tidak akan membunuh orang dengan tatapanmu. Bukankah begitu, Nak?"
Aku hanya mengangguk pelan dan berkata dengan mantap. "Tentu saja! Aku, kan anak baik!"

****

Kini aku, anak kecil yang polos dan ceria itu sudah tumbuh dewasa menjadi pribadi yang berbeda. Saat aku beralih ke usia remaja, muncul tekanan yang menyebabkan ada suatu zat padat di dalam dadaku yang  selalu mengganjal. Itu membuatku semakin lemah dan sakit. Dadaku seperti teriris katana dan tertimpa batuan besar yang jatuh dari pegunungan. Semangat hidupku yang kupupuk sejak kecil terkikis bak bebatuan di pantai yang selalu diterpa ombak besar dan lama kelamaan hancur menjadi butiran pasir yang tiada makna. Itulah yang selalu kualami setiap saat aku jatuh dalam kegelapan yang tiada akhir.

Zat padat di dalam tubuhku lama kelamaan mulai berubah menjadi semacam monster di dalam diriku yang sulit kukendalikan. Hal-hal yang berasal dari kegelapan selalu muncul di hadapanku, dan membuat diriku sangat takut. Berpasang-pasang mata yang mengeluarkan cahaya api di kegelapan itu menatapku, seakan-akan mereka ingin memakanku hidup-hidup. Bayang-bayang kegelapan itu berbisik melalui angin, mereka menuturkan kata-kata yang menurunkan kadar semangat hidup.

Hei, bayang-bayang kegelapan! Aku bukan pengecut, aku bisa menjaga diriku sendiri. Sayangnya mereka bukan manusia yang bisa kuajak kompromi, mereka tetap memaksa agar aku bisa menerima mereka sebagai penjaga diriku. Sepertinya mereka tahu kalau zat di dalam dadaku ini terlalu lemah untuk menjaga tubuhnya sendiri. Dengan sangat terpaksa mereka menyebar di mana-mana, dan mengawasi langkahku. Hal itu menyebabkan cahaya di sekitar tubuhku semakin gelap dan nampak hitam pekat. Tidak ada orang yang berani macam-macam denganku karena aura gelap yang aku punya. Mereka semua bisa melakukan apapun yang tidak kusangka terhadap orang-orang yang berani menggamgguku. Ini membuatku gila. Aku sudah berusaha menghentikan mereka. Percuma saja kerja kerasku selama ini, itu tidak membuahkan hasil dan justru membuat kegelapan semakin menjagaku. Toh, mereka bilang kalau aku mati nanti aku akan menjadi bayang kegelapan seperti mereka juga. Tubuhku berusaha untuk lari dari aura hitam yang mengikatku selama ini, namun saat kakiku terlalu lelah untuk berlari aku terjatuh di dalam jebakan kegelapan.

Di jebakan ini, mataku dibutakan. Aku benar-benar buta, tidak dapat melihat apapun kecuali bayang-bayang kegelapan itu. Mata mereka memandangi diriku yang tidak berdaya. Dalam momen yang seperti ini aku tidak dapat melakukan apa-apa. Bahkan untuk tidur saja aku tidak bisa karena bayang-bayang itu selalu mengganggu malam-malamku. Bayang-bayang gelap itu menimpa dadaku sampai aku tidak dapat bernapas. Saat aku mengerjakan sesuatu aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik, biarpun menanamkan niat baik terasa sakit di dalam dada. Alhasil, terkadang ada pekerjaan yang terbengkalai dan dikerjakan seakan tanpa niat. Aku hanya dapat duduk diam memandangi orang-orang yang tidak akan pernah mendekatiku karena takut keberadaanku akan mencelakakan mereka. Itu bukan salahku, aku tidak melakukan apa-apa. Bayangan kegelapan itulah yang mencelakakan, orang-orang menyalahkanku karena mata mereka tertutup rapat. Mereka tidak tahu seberapa sakitnya menjadi seperti ini.

****

Malam ini aku kembali melihat bulan purnama, sama seperti saat aku kecil dulu. Terngiang kembali di telingaku cerita Ayah mengenai sebentuk wajah pria tampan di bulan purnama yang bisa membuat siapapun yang melihatnya akan mati. Entah kenapa sinar pantulan rembulan itu tidak lagi seperti dulu. Di masa lalu, rembulan nampak indah di mataku. Namun kini, sang rembulan seakan-akan melukiskan wajahku di atas permukaannya. Sama seperti lelaki tampan di dalam legenda itu, aku kesepian di langit malam dan awan-awan gelap selalu mengitariku. Kegelapan yang kuciptakan sendiri membuat mereka takut sekaligus kasihan memandangku.

Aku sama sekali tidak butuh dikasihani dan aku mulai belajar untuk tidak menyalahkan kegelapan yang mengitariku sebagai sumber masalah. Seumur hidupku aku selalu mencari apakah ada bintang kecil yang bersinar di tengah kegelapan itu? Secercah cahaya bintang membuatku merasa lebih baik sedikit demi sedikit dan mengurangi rasa sakit di dalam dada yang selama ini aku nikmati bagaikan seorang masokis. Diri ini hanyalah manusia biasa yang menderita suatu tekanan yang membuatnya sering jatuh dalam jurang kegelapan, dan bukanlah titisan pria tampan di wajah bulan. Cerita mengenai itu hanya sekedar mitos yang beredar di masyarakat dan pasti ada satu penjelasan ilmiah yang rasional terhadap apa yang aku alami.

.
.
.
.
.

Aku seorang pengidap dysthymia.


A/N: Sumpah gue gak ngerti lagi gue ini nulis apaan, tadinya sih pingin nulis curhatan salah satu karakter aku. Inilah hasil menggabungkan penyakit dysthymia, legenda Katsura Otoko, sama lagu anak-anak jadul tentang bulan. Cuma, yeaah...it comes out like this...

Review, bitte? :3

Sabtu, 05 April 2014

Der Perfekte Mann

WARNING: DON'T BE FOOLED BY THE TITLE. YOU'VE BEEN WARNED.




Der Perfekte Mann

by: ainasiegrieda a.k.a. Anya Teresa


source


CHARACTERS COPYRIGHT CLAIM:

Dieter Eisenschmidt, Toshiro Kanegawa and Elise Weistdijk (c) me
Mo Kai Ling and Anneliese Leong (c) FrauPhan
Thomas 'Tom' McKinnon (c) seerstella
Dannias Rainsnight (c) Azzura Raven Hexium


Berantakan dan cuek terhadap penampilan, itulah stereotipe yang melekat pada mahasiswa Fakultas Teknik. Namun, pengecualian dapat diberikan pada Dieter Eisenschmidt, seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin tahun ketiga. Mahasiswa asal Jerman tersebut menjadi idola para wanita di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Fakultas Ilmu Budaya (dan mereka nggak tahu kalau Dieter sudah punya pacar seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi).Hal ini disebabkan oleh penampilan pria muda tersebut yang berbanding terbalik dengan mahasiswa Fakultas Teknik pada umumnya, penampilannya selalu nampak sangat rapi dan diperhatikan kemanapun dia pergi. Bahkan Dieter sangat benci apabila saat menyisir rambut pirangnya, ada sehelai rambut yang tidak terbawa. Gaya berbicaranya juga sangat kaku, seakan dia berusaha agar tidak ada kesalahan pengucapan satu kata atau satu huruf sekalipun.

"Kenapa rambutku yang ini jatuh terus, ya? Sepertinya rambutku ini memang sulit diatur?" tanya Dieter saat berkaca di cermin kamar mandi dan menyisir rambut pirangnya.

"Ya, ampun Dieter-senpai! Itu kurang rapi apa, coba? Rapi banget kalau aku lihat..." gumam Toshiro, teman sekamarnya yang menunggu di luar kamar mandi.

"Tapi aku tidak suka kalau rambutku ada yang tertinggal..." ucap pemuda itu sambil terus menjinakkan rambut liarnya. "Ah, sepertinya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi... Toshiro, tolong ambilkan gunting."

"Eeh? Buat apa, Dieter-senpai?" tanya Toshiro bingung melihat tingkah seniornya yang satu ini.

"Cari saja di lemari, jangan sampai dokumen-dokumen penting Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik berantakan karena ulahmu. Turuti kata-kata seniormu bisa atau tidak?" tanya Dieter.

Pemuda Jepang berusia 18 tahun itu refleks membungkukkan badannya dan pergi ke arah laci-laci di lemari pakaian untuk mencari sebuah benda yang dinamakan gunting. Setelah menemukan gunting kertas di bawah tumpukan dokumen organisasi, Toshiro mendekati seniornya tersebut sambil menunjukkan gunting kertas yang dia temukan tadi.

"Senpai, apa ini gunting yang kau cari?" tanya Toshiro sambil menunjukkan gunting kertas tersebut.
Dieter hanya menoleh pada Toshiro dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maksudku gunting rambut. Bukan gunting kertas."

"Lah? Sama saja gunting, kan? " pikir Toshiro.

Pemuda Jepang tersebut kebingungan dan mencoba mengingat apakah ada gunting rambut di kamar mereka. Firasat Toshiro mengatakan bahwa tidak ada gunting rambut di kamar mereka. Jadi, mungkin terpaksa dia harus mencari gunting rambut di kamar tetangga.

"Memangnya ada gunting rambut di kamar kita, Dieter-senpai?"

Yang ditanya hanya cuek saja, seakan-akan menyuruh Toshiro untuk mencari gunting tersebut di laci meja kecil di samping tempat tidur mereka. Toshiro merasa sial harus sekamar dengan senior yang seaneh itu, semuanya harus rapi, bersih dan pada tempatnya. Ribet, pikirnya. Akhirnya ketemu juga, Dewi Fortuna kali ini berpihak padanya. Toshiro tidak harus mencari gunting rambut sampai ke kamar tetangga.

"Ini, senpai." ucap Toshiro sambil menyerahkan gunting tersebut. Dieter segera mengambil gunting tersebut dan menggunting anak-anak rambutnya yang dianggap mengganggu, kemudian membuangnya ke tempat sampah dekat wastafel.

"Memangnya ada apa rapi-rapi seperti itu, senpai?" tanya Toshiro melihat seniornya memakai polo shirt dan celana jeans seakan-akan mau pergi ke suatu tempat.

"Elise akan berkunjung ke sini dan sebagai pria aku malu untuk tampil berantakan di depan wanita." jawab Dieter. Toshiro hanya mengangguk mendengar penjelasan Dieter.

****

TOK! TOK! Terdengar suara pintu kamar diketuk.

"Siapa disana?" tanya Toshiro.

"Aku mau nyari Dieter. Dieternya ada?" tanya suara perempuan di balik pintu. Dieter yang sangat mengenali suara perempuan itu, langsung membukakan pintu. Ternyata di balik pintu kamar sudah berdiri seorang gadis Kaukasia bertubuh tinggi dan berambut coklat terang bersama dengan seorang gadis Asia bermata sayu yang membawakan sekotak kue black forest.

"Liebchen, tidak seperti biasanya kamu bersama dengan Mo?" tanya Dieter pada perempuan tersebut.

"Iya...jadi tadi aku main ke rumahnya Mo. Terus bikin kue bareng. Ini kuenya buat kamu..." jawab gadis Kaukasia itu lembut sambil menyerahkan sekotak kue tersebut.

"Danke schön, liebchen. Kalian masuk saja, maaf kalau kamarnya berantakan. Sebab sudah sehari yang lalu tidak aku bersihkan..." ucap Dieter. Kedua gadis itu saling berpandangan setelah masuk dan melihat kamar kos Dieter dan Toshiro yang terlampau rapi untuk ukuran kamar yang dihuni dua orang pria. Bahkan, wanita-wanita seperti Elise dan Mo saja kalah rapi.

"Ini udah rapi banget, Dieter. Bahkan cewek aja kalah." kata Mo, si gadis Asia itu. Elise segera meletakkan kue tersebut di atas karpet agar dapat dimakan berempat.

"Kalau Toshiro dan Mo mau makan kuenya, makan saja." ucap Elise. Kedua orang Asia itu mengangguk pelan.

Dieter memperhatikan kue di atas karpet yang berbentuk lingkaran dan terdapat empat buah ceri di atasnya.

"Jadi, kue ini bentuknya lingkaran...ada empat orang. Berarti bisa dipotong empat, supaya satu orang dapat satu ceri." gumam Dieter pelan. Ketiga orang yang lain hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu memang sudah jelas.

Tiba-tiba muncul seorang pria muda berambut merah yang memakai kemeja putih dan celana bahan di depan pintu kamar kos dan memperhatikan kue tersebut.

"Permisi...sepertinya lezat...aku boleh minta kuenya? Apa ada yang ulang tahun?" tanya Tom McKinnon, nama mahasiswa jurusan Teknik Geologi di depan pintu tersebut yang ternyata tetangga kos mereka.

"Boleh saja...ayo masuk." ucap Toshiro, kemudian tersenyum.

"Kita ada lima orang, jadi kuenya dibagi lima. Terus...cerinya harus dipotong jadi lima bagian dan masing-masing orang dapat empat." ucap Dieter sambil memotong-motong ceri tersebut. Sementara itu Tom, Toshiro dan Mo hanya bisa cengo melihat tingkah pria keturunan ras Aria tersebut. Kemudian Dieter menunjukkan ceri yang sudah dipotong kecil-kecil sambil menunjukkan senyum termanisnya.

Di depan pintu kamar mereka mendadak lewat seorang gadis berambut hitam panjang yang merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Gadis yang memakai gaun biru tua itu berhenti sejenak dan memandang kue coklat yang nampaknya lezat tersebut.

"Anneliese, kamu mau kue yang aku buat bareng Elise?" tanya Mo. Gadis yang dipanggil dengan nama Anneliese itu mengangguk pelan.

"Enam orang...jadi kuenya dibagi enam. Lalu...potongan cerinya harus dipotong-potong menjadi tiga bagian...supaya satu orang dapat sepuluh potong ceri." gumam Dieter yang mulai kesal sambil kembali memotong-motong ceri tersebut, kemudian menunjukkan ceri yang sudah dimutilasi seperti potongan wortel dalam salad.

"Di, kamu mau bikin salad atau makan kue? Aku bingung sama kamu..." ucap Anneliese. Pemuda itu tidak merespon sama sekali. Teman-temannya hanya dapat berharap agar tidak ada orang lain lagi yang masuk ke kamar kos mereka. Namun harapan itu musnah, saat mereka melihat Dannias, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris berambut pirang yang memakai kaos hitam, celana jeans dan jaket abu-abu.

"Aku boleh minta kuenya?" tanya Dannias.

"Kurasa Dieter akan semakin parah dan tidak sabaran lagi menghadapi masalah ceri ini." ucap Elise.

"Dari mana kau tahu?" tanya Mo penasaran.

"Tujuh orang...kue dibagi tujuh...berarti cerinya...AAAAARRGH! Mana mungkin bisa kupotong dalam jumlah kelewat banyak! Bagaimana ini?" ujar Dieter yang mulai emosian.

"Dia semakin kambuh saja gangguan obsesif kompulsifnya..." gumam Elise. Sementara itu Dieter yang sudah tidak dapat menanggung ceri di atas kue tersebut berakhir melempar kue tersebut ke luar jendela.

"Senpai, kenapa kuenya dilempar ke luar jendela? Elise sama Mo nggak apa-apa kuenya dibuang?" tanya Toshiro penasaran.

"Cerinya sudah tidak bisa dibagi rata, jadi lebih baik kita tidak usah makan kue sekalian. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf." ucap Dieter yang baru sadar kalau tadi gangguan obsesif kompulsifnya sudah kambuh. Pada akhirnya semua orang yang ada di kamar tersebut merasa kecewa karena gagal makan kue coklat.

"Aku sih nggak apa-apa...soalnya dia memang sering begitu kalau sudah mulai kambuh." ucap Elise.

****

Sementara itu di bawah sana seorang gadis berambut panjang kecokelatan yang memakai tank top berwarna merah dan hot pants berwarna hitam terkena lemparan kue dari Dieter yang kamarnya berada di lantai atas.

"Siapa, sih yang berani ngelempar kue ke arah gue? Sengaja, ya? Pasti itu antek-anteknya Megumi yang nggak suka sama gue! Gue yakin itu, dia pasti iri karena kecantikan gue dan pengen ngerebut Friedrich dari gue! Awas, lo!"  umpat gadis itu dalam hati saat mengetahui dirinya terkena lemparan kue coklat.

A/N: Kalau baca dari judulnya dan gambarnya pasti ngiranya bakalan nulis romance unyu-unyu, kan? Hahaha...jadi buat cewek-cewek boleh aja nyari Mr. Perfect tapi sabar-sabar aja kalau dia udah kelewat perfect (ini maksudnya apa?). Review yang membangun sangat diharapkan,lho :)

Senin, 27 Januari 2014

die Regierung der Zeit

source


Running, running
I kept on running
Seems like someone is watching me
He followed me around
Everywhere I go

What does he want from me?
Did he wanted to possess myself
Or just making me as his tool?
I don't know

I supposed he wanted a revenge
For the dark memories
That I'll never recall

Honestly,
I still regret those damn memories
I could say,
I'm not having that sign on my left arm (anymore)
(But) I do believe, karma does exist

I wish he could take me back to erase the memories
Change the history
Help me, I'm helpless
He always pulling me forward

Until I got exhausted
I decided giving up
I'm falling down into the ground
Looking at him for the last time

He stops following me
And dropped three swords from his hand
My soul flees into the sky

"Auf Wiedersehen, meine Zeit"


A/N: Tumben Author nulis pake bahasa Inggris,  nulis puisi gaje ini lagi...ya sudah saya minta beta dan kritik sarannya.

Kamis, 02 Januari 2014

Alitajunnan


Alitajunnan: Subconcious Thoughts (Finnish)

source


Hari sudah malam, dan musim dingin telah tiba di belahan bumi Utara. Hari yang bersalju membuat orang-orang di sebuah kota metropolitan yang terletak di belahan bumi Utara merasa malas untuk keluar dari persinggahan mereka masing-masing. Meski begitu, hiruk pikuk khas ibukota negara masih sangat terasa.

Jam dinding sudah menyatakan pukul setengah delapan malam, seorang pemuda berambut cokelat gelap membuka sebuah lemari es di apartemennya untuk mengecek persediaan minuman keras. Mata pemuda itu tertuju pada bagian bawah kulkas yang kosong, di mana biasanya pemuda tersebut menyimpan stok minuman kerasnya selama musim dingin berlangsung.

"Huh! Cepat sekali stok minuman keras itu habis. Malas sekali rasanya kalau aku harus keluar untuk membelinya." keluh Antti, nama pemuda itu. Jangan tertawa membaca namanya, karena nama-nama lelaki di kota itu memang aneh-aneh.

Pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahunan itu segera mengambil mantelnya yang digantung di sebelah kiri pintu apartemennya dan mengecek dompet kulit yang diletakkan di dalam saku celananya untuk mengetahui berapa banyak uang yang masih dia miliki. Syukurlah uangnya masih ada sekitar 150 Euro, cukuplah.

Dia melangkahkan kedua kakinya keluar dari apartemen dengan malasnya hanya untuk pergi ke sebuah toko yang jaraknya hanya berselang satu setengah kilometer dari apartemennya. Sudah setengah kilometer pemuda bertubuh tinggi itu berjalan, dia merasa terkejut melihat sesuatu yang ada di sebelah kanannya. Ada seorang gadis bertubuh mungil yang sedang tidak sadarkan diri dan bersandar pada tiang listrik. Sekujur mantel biru tua gadis itu dipenuhi dengan kepingan salju berwarna putih dan kulit gadis itu nampak pucat kemerahan. Mungkin gadis itu tidak tahan dengan dinginnya kota tempat tinggal pemuda itu. Pemuda itu berjongkok sejenak, kemudian menyibakkan rambut cokelat terang gadis yang sedang tidak sadarkan diri tersebut untuk melihat wajahnya.

Gadis itu berbeda dengan gadis-gadis lain yang berada di kota tempat si pemuda itu tinggal. Selain karena tubuhnya yang mungil, dia juga tidak berambut pirang seperti kebanyakan gadis yang dikenal oleh pemuda itu. Hidungnya juga lebih bangir daripada gadis-gadis yang berada di kota itu. Itu berarti, gadis itu tidak berasal dari kota ini. Mungkin dia berasal dari luar kota...ataukah luar negeri?

"Dia manis juga, bolehkah aku membawa gadis asing ini pulang?" batin Antti sambil mengelus pipi gadis itu perlahan,"Kulitnya mulus sekali."

Antti langsung melupakan niat awalnya keluar dari persinggahan untuk membeli stok minuman keras selama musim dingin. Mungkin karena Antti iba melihatnya atau terpana melihat kecantikan gadis asing tersebut. Perlahan-lahan dia mengangkat tubuh mungil gadis itu, gadis itu terasa sedikit berat di kedua tangannya mengingat tubuh Antti yang tingginya mencapai 185 sentimeter -- sedikit lebih tinggi daripada rata-rata lelaki di negaranya dan berat badannya yang cenderung underweight. Terpaksa pemuda itu harus berjalan cepat membawa si gadis asing tersebut dan barang-barang bawaannya ke dalam apartemennya untuk mencegah hal yang buruk terjadi padanya.

***

Pemuda itu segera membaringkan si gadis asing di tempat tidurnya. Antti menyentuh mantel yang dipakai oleh gadis itu, bahannya terlalu tipis untuk cuaca sedingin ini.Perlahan-lahan tangan pemuda itu membuka mantel yang dipakai oleh gadis itu, dan menggantinya dengan mantel yang dipakainya.

"Nah, sekarang kamu akan merasa lebih hangat di sini..." bisik Antti dengan nada lembut sambil mengangkat tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat.
"Terima kasih banyak...sekarang aku sudah merasa sedikit lebih baik." terdengar sebuah suara lembut yang entah dari mana asalnya.
"Suara siapa itu?" tanya Antti sambil mencari-cari sumber suara di dalam kamar itu, "Tidak ada siapa-siapa, selain kita berdua."
"Ini suaraku...yang sedang terbaring di atas ranjangmu. Siapa kau?" suara lembut itu terdengar lagi. Antti menatap si gadis asing yang terbaring di atas ranjangnya. Mulutnya tidak terbuka sama sekali, mana mungkin dia berbicara? Sudah begitu dari tadi suara lembut itu berbicara dalam bahasa Jerman, tetapi entah mengapa Antti bisa mengerti apa yang "dikatakan" oleh gadis itu. Mungkin dia harus mencoba lagi "berbicara" dengan gadis itu.
"Aku Antti, yang membawamu sampai ke sini. Siapa kamu? Pasti kamu tidak berasal dari sini, kan?" tanya Antti sambil terus menggenggam tangan gadis itu.
"Namaku Nadine Liebhart. Benar, aku lahir di sebuah kota yang berada di dekat Pegunungan Alpen. Kau pasti berasal dari kota ini, kan?" jawab suara itu lagi.
"Tidak, aku dilahirkan di Rovaniemi. Sebuah kota yang jauh dari sini. Tapi aku sudah lama tinggal di sini. Kamu kenapa ada di sini?"
"Kau tidak perlu tahu jawabannya, karena aku memang merahasiakan keberadaanku di sini."
"Oh...ya sudah kalau begitu. Omong-omong,jari-jari tanganmu begitu lentik, apakah kamu suka bermain musik?" ucap Antti sambil merasakan jemari gadis itu.
"Sudah sejak kecil aku belajar bermain piano dan biola. Orang-orang di negeriku dikenal dengan bakatnya bermain alat musik. Bagaimana dengan di sini?"
"Aku juga suka bermain alat musik, di mana-mana musik pasti ada. Kalau di negerimu ada, pasti di negeriku juga ada."
"Benarkah? Kalau begitu coba kau ninabobokan aku."
"Baiklah kalau itu maumu..." bisik Antti. Kemudian pemuda itu bernyanyi sebuah lagu ninabobo yang dikenalnya sejak kecil.

"Nuku, nuku, nurmilintu  Go to sleep, bird of grass
Väsy, väsy västäräkki. - Get tired, wagtail
Nuku, kun mie nukutan, - Sleep while I'm putting you to sleep
Väsy, kun mie väsytän. - Get tired when I'm making you tired

Nukuta, jumala, lasta. - Put, my God, a child to sleep
Makauta, mariainen. - make her, little Virgin Mary, to lay down
Kuro kiisan silmät kiinni - close Kiisa's eyes
Anna unta aamuun asti - give her a dream until morning
Kuro kiisan silmät kiinni - close Kiisa's eyes
Anna unta aamuun asti - give her a dream until morning"

Seusai menyanyikan lagu ninabobo tersebut, suara itu terdengar lagi: "Suaramu bagus sekali, aku jadi mengantuk...selamat tidur Antti."
"Bolehkah aku berbaring di dekatmu?"
"Tentu saja, dan peluk aku dengan lembut. Aku kedinginan." pinta suara itu. Antti segera berbaring di sebelah kanan Nadine, dan tanpa sadar tangannya memeluk pinggang gadis itu.

***

Antti terbangun pada pagi itu, dan mendapati Nadine sudah tidak ada di pelukannya. Pemuda itu berjalan keluar kamar dan menemukan gadis berambut coklat terang sebahu itu sedang duduk meminum kopi di ruang makan. Antti segera mendudukkan diri di bangku yang terletak di depan bangku gadis itu.
"Nadine? Ternyata kamu berada di sini?" tanya Antti saat melihat sosok gadis itu.
"I'm sorry, I don't understand every word you say. And from where do you know my name?" ucap Nadine dalam bahasa Inggris, dengan suara yang sama seperti semalam. Antti kaget, mengapa tiba-tiba gadis itu berbicara dalam bahasa Inggris? Padahal semalam Antti berbicara pada gadis itu dalam bahasa Finlandia, dan dia mengerti apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
"Aku tahu namamu dari..." kata Antti sambil mengobok-obok tas tangan yang diletakkan gadis itu di atas meja sampai dia menemukan sebuah kartu berwarna krem, "Kartu identitasmu!"
"Oh, dari kartu identitasku. Kau Antti, bukan? Yang semalam membawaku ke sini?"
"Kok tahu?" tanya Antti bingung. Jangan-jangan...suara lembut semalam itu...
"Alam bawah sadarku semalam mendengar suaramu itu," jawab Nadine.
"Alam bawah sadar?"
"Ya, alam bawah sadar."
"Kurasa semalam aku berbicara sendiri dalam bahasa Finlandia, dan ada suara wanita yang berbicara dalam bahasa Jerman di kamarku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa mengerti bahasa Jerman, padahal seingatku seumur hidup aku tidak pernah mempelajari bahasa Jerman." kata Antti.
Nadine menyeruput kopinya kemudian berkata: "Apapun bisa terjadi di alam bawah sadar, Antti. Aku juga bingung mengapa aku bisa mengerti kata-kata seorang pria yang berbicara dalam bahasa Finlandia. Jadi semalam itu, kita sebenarnya sedang berbicara satu sama lain dan bisa saling mengerti biarpun kita berbeda bahasa."
"Oh, jadi begitu. Jadi, sebenarnya kita berdua punya kemampuan telepati?"
"Bisa dibilang begitu. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kau minum kopinya saja. Orang-orang di sini juga suka minum kopi, bukan?" ucap Nadine sembari menuangkan kopi dari ceret ke cangkir, dan menyerahkan cangkir itu ke tangan Antti.
"Dan, orang-orang di Finlandia dan Austria juga sama-sama menyukai musik."
"Eh? Dari mana kau tahu kalau aku orang Austria?" tanya Nadine bingung sambil mengerinyitkan dahinya.
"Dari kartu identitas juga. Kan, di setiap negara Eropa kartu identitasnya beda-beda. Kartu aku warnanya biru, punyamu warna krem." jawab Antti.
"Kau berbohong, kan? Bilang saja kau tahu dari telepati kita semalam." kata Nadine, kemudian dia tersenyum. Antti membalas senyumannya, kemudian tertawa dan mendorong bahu gadis itu. Gadis di depannya juga ikut tertawa.

A/N: Inilah akibat pas liburan kuliah yang lama banget, dicekokin drama Taiwan melulu setiap malem. Jadilah #365DaysProject hari kedua kacau balau seperti ini. Tokohnya orang Eropa tapi plotnya kayak MV-nya Davichi yang digabung sama drama di D**I TV. 

Rabu, 01 Januari 2014

Moving On

Halo! Ini Anya balik lagi setelah udah lama hiatus karena UAS dan libur Natal. Sekarang Anya mau ngepost project 365 days drabble yang ada di blognya  Asha Debora. Ya, udah...sorry kalau ini sampah dan nggak jelas. Kata-kata yang dipakai di situ: Kenangan, Wash Away Bad Memories sama Kerai Kayu (tapi di sini aku ganti jadi kardus, sama-sama kotak kan?)

sumber


Malam Tahun Baru identik dengan keluarga atau pasangan yang menghabiskan waktunya bersama-sama, entah mereka mau menghabiskannya di rumah maupun di luar. Namun, hal itu sama sekali tidak terjadi pada Anita. Malam itu, Anita sendirian di rumah. Kedua orang tuanya masih dalam masa dinas di luar kota, sedangkan teman-temannya pasti sedang merayakan malam Tahun Baru-nya masing-masing.

Anita berpikir matang-matang, bagaimana cara membunuh waktu agar tidak terasa apabila besok sudah berganti tahun. Tiba-tiba tercetus ide di kepala gadis itu.

Bagaimana kalau dia membereskan kamarnya yang selama ini sangat berantakan selagi menunggu pergantian tahun?

Gadis itu memunguti barang-barang yang berceceran di lantai kamarnya, dan mengembalikannya ke tempat seharusnya mereka berada, menyapu dan mengepel lantai kamarnya, kemudian membersihkan debu yang bertebaran di rak dengan kemoceng. Pekerjaan Anita terhenti pada saat dia menemukan sebuah kotak berdimensi 30x30x50 sentimeter yang ditemukan di salah satu bagian lemari pakaian.

****

Anita memutuskan untuk duduk dan beristirahat sejenak dan melihat-lihat isi kotak yang sudah lama tidak dia sentuh. Gadis itu membuka kotak tersebut, dan ternyata isinya adalah barang-barang pemberian para lelaki yang selama ini pernah dekat dengannya.

Tangan Anita mengambil sebuah kotak tipis berisi sebuah CD musik dari dalam kotak tersebut. Anita ingat betul apabila CD itu dia dapatkan dari Rio, seorang laki-laki baik hati yang pernah berhubungan dengannya. Sayang sekali, Rio sudah meninggal dunia tiga bulan yang lalu karena penyakit kanker.

Mengingatnya, air mata Anita mulai menitik dan mengaliri kedua pipinya.

Anita segera melemparkan CD tersebut ke tempat sampah, dan mengorek-ngorek kembali. Kali ini, gadis itu menemukan sebuah boneka beruang berukuran kecil. Ini dari siapa, ya? Oh, iya! Boneka itu adalah pemberian dari Johan. Gadis itu sudah tidak mau lagi mengingat orang tersebut, hubungan mereka berakhir setahun yang lalu karena Johan ketahuan selingkuh dengan Risa, sahabatnya.

Sambil terus menangis, boneka itu kembali dia lemparkan ke tempat sampah.

Kemudian, Anita menemukan sebuah buku komik. Dari siapa, ya? Oh, Fabi! Hubungan antara Anita dan Fabi juga berakhir menyakitkan, awalnya memang manis. Namun, pada akhirnya Anita menyadari kalau Fabi mengidap suatu abnormalitas. Fabi ternyata mengidap nijikon atau memiliki fetish terhadap karakter dua dimensi di film animasi Jepang. Hal yang membuat laki-laki itu menyukai Anita adalah karena menurutnya Anita mirip dengan tokoh kartun yang dia sukai itu.

Buku komik itu kembali melayang ke tempat sampah. Satu demi satu barang yang mengingatkannya pada suatu kenangan pahit melayang ke tempat sampah. Setelah kotak itu kosong, Anita menangis karena menyadari perjalanannya mencari cinta selama ini selalu gagal. Selalu berakhir seperti ini -- tragis. Di sisi lain Anita merasa lega karena satu persatu kenangan buruk yang dia miliki berhasil dilenyapkan.

Anita memandang ke arah jam dinding, tak disadari jarum jam sudah menyatakan jam dua belas malam. Tahun yang lama sudah berlalu, lembaran yang baru sudah dibuka.

Sudah, lupakan saja mereka semua. Mereka mungkin bukan orang yang ditakdirkan untukmu. Itu sudah menjadi masa lalu, sekarang jalani saja hidup ke depan.

"Selamat Tahun Baru, semoga di tahun ini kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintaimu dengan tulus dan menerimamu apa adanya..." batin Anita dalam hati.

Gimana? Saya mengaharapkan kritik dan saran dari pembaca :)

Minggu, 10 November 2013

Kisah Dua Connector Pen Biru (Part 1)

Banyak orang yang menginginkan kami, spidol yang bisa disambung-sambungkan satu sama lain. Tapi mereka hanya menggunakannya untuk menggambar atau bermain-main saja. 



Kami adalah dua buah connector pen berwarna biru, yang selalu tinggal di dalam tempat pensil berwarna hitam milik seorang mahasiswi baru yang mempelajari ilmu sosial di sebuah universitas terkemuka. Yang satu berwarna biru muda, dan yang satu lagi berwarna biru tua. Tempat pensil itu selalu dibawanya setiap hari, dan dari semua alat tulis yang digunakannya, kamilah yang paling sering berpindah tangan. Maka dari itu, kami bisa dibilang istimewa.

Ya, mahasiswi baru itu selalu meminjamkan salah satu dari kami kepada tangan senior-seniornya untuk menandatangani buku yang harus dia bawa setiap minggunya. Inilah sepenggal kisah dari salah satu dari kami berdua.

Minggu Pertama

Pertama kali aku, si biru muda berpindah tangan, aku ada di tangan seorang gadis pemalu yang nampak modis dengan gaya berpakaian hijab style yang sedang menjadi tren belakangan ini.

Keesokan harinya, aku ada di tangan seorang pemuda tampan, tangguh dan pemberani, seorang pemimpin kritis yang selalu memberikan motivasi kepada setiap orang yang ditemuinya. Wah! Kesempatan langka untuk dipegang oleh seorang motivator seperti dia! Alangkah kagum mahasiswi baru tersebut, sekaligus bangga memiliki senior yang seperti dia.

Ternyata dia memiliki kebiasaan unik, yaitu pergi ke danau dekat perpustakaan dan merenung sambil menuliskan pikiran-pikirannya. Mahasiswa itu tidak tahu apabila seorang ketua Himpunan Mahasiswa memiliki kebiasaan seperti itu.

"Kak, aku pernah punya mimpi...dan kupikir mimpi itu tidak akan mungkin terwujud." ucap mahasiswi baru tersebut.

"Siapa bilang mimpimu itu aneh? Mimpimu dibilang aneh kalau ada yang menertawakan...dan kau lihat saja sendiri...apakah aku menertawakan mimpimu? Tidak, kan? Jadi, rawat mimpimu sampai dia besar dan terwujud!" kata senior motivator tersebut. Itulah kata-kata yang paling mahasiswi baru itu ingat dari senior tersebut.

Pada akhir minggu, aku ada di tangan seorang gadis cantik misterius yang jarang terlihat, tapi beruntungnya aku dapat ditangkap oleh tangan gadis itu. Aku merasa sangat takut melihat tatapan matanya yang intens dan menyeramkan.

Minggu Kedua

Aku jadi penasaran akan minggu ini, tangan siapa lagi yang akan memegangku.

Ternyata, aku dipegang lagi oleh seorang gadis berkerudung yang menyukai hal-hal yang berbau Korea. Mahasiswi pemilikku juga menyukai hal-hal yang berbau Korea, jadi dia mengobrol cukup panjang dengan senior yang satu ini.

Kemudian, aku digilir lagi oleh seorang pemuda humoris yang nampak santai dengan kehidupannya. Selama mahasiswi tersebut mengobrol dengan pemuda yang usianya berjarak dua tahun darinya ini, dia sering sekali tersenyum dan tertawa dan mengajaknya berfoto di tempat yang konyol -- di dalam elevator. Apalagi dia meninggalkan kesan dan pesan yang cukup menggelitik di buku yang harus dibawanya setiap minggu.

Minggu Ketiga

Minggu ini, aku berada di tangan dua orang malaikat yang menyamar menjadi manusia. Dan kebetulan minggu ini majikanku sedang merasa sakit-sakitan setelah mengikuti retret mahasiswa baru.

Mahasiswi itu melihat daftar wawancara untuk minggu ini, dan hatinya merasa kegirangan melihat sebuah nama yang terpampang di baris pertama. Nama salah seorang senior berwajah malaikat yang selama ini menjadi idolanya.

Segeralah dia mencari sang pemuda berwajah malaikat tersebut.

"Permisi...maaf, Kak. Kakak yang berwajah malaikat itu di mana ya?" tanya mahasiswi baru tersebut.

"Itu, dia di sana." tunjuk seorang senior yang dia tanya -- ke arah seseorang yang memang benar, dia yang berwajah malaikat. Tatapan matanya yang besar, sudah menunjukkan kesuciannya. Pemuda berwajah malaikat itu menoleh ke arahnya, dan mahasiswi itu tiba-tiba merasa percaya bahwa kiamat sudah dekat. Tanda-tandanya, banyak malaikat dari surga yang turun ke bumi.

Pemuda berwajah polos itu seakan-akan menampakkan diri dengan dua sayap besar berwarna putih yang tiba-tiba muncul dibalik kedua punggungnya dan cahaya yang menyelimuti tubuhnya.

"Kak...saya mau mewawancarai Kakak...sebentar saja. Boleh, kan?"

Senior itu mengeluarkan senyum manisnya dan menganggukkan kepalanya. 

"Boleh, kita mengobrol di sana saja ya..." ajak senior berwajah malaikat tersebut.

Pada akhirnya mereka mengobrol panjang lebar, ternyata senior tersebut juga berhati malaikat. Lama kelamaan sang mahasiswi ingin menjadikan seniornya itu sebagai malaikat pelindungnya.

"Maaf, ya Kak...suara saya aneh...saya baru saja terkena flu karena efek acara di kolam renang kemarin. Makanya saya bawa-bawa tisu terus ke sini."

"Oh nggak apa-apa, kok...aku juga baru kemarin kena flu. Aku capek latihan sepak bola kemarin..."

"Omong-omong, setahu saya malaikat itu turun ke bumi untuk menjadi malaikat pelindung seseorang, bukan? Nah, apakah Kakak sudah menjadi malaikat pelindung seseorang?" tanya mahasiswi itu.

Dan apa jawaban yang diberikan senior itu?

"Sudah sejak lama...dia juga kuliah di fakultas ini, tetapi berbeda jurusan denganku." jawabnya. Seketika, hati mahasiswi itu hancur. Pencariannya untuk seorang malaikat pelindung yang selama ini diinginkannya gagal total.

"Ya sudah, Kak...saya minta tanda tangan Kakak..." ucap mahasiswi baru itu. Pemuda berwajah malaikat itu meraih tubuhku dan menandatangani buku itu, kemudian menggambar sesuatu di sebelah kanan tanda tangannya.

"Gambar apa, Kak?"

"Aku lagi gambar bintang, biar tanda tangannya beda dari yang lain. Biarpun aku bukan malaikat pelindungmu, tapi kamu harus selalu ingat aku." jawabnya, kemudian dia mengeluarkan senyum manisnya yang khas.

Hari berikutnya, mahasiswi itu menemui seorang senior wanita berwajah kalem, sama seperti seorang malaikat penyembuh. 

"Maaf, Kak...aku sedang batuk-batuk begini...jadi suara saya agak aneh..."

"Kamu nggak apa-apa, kan? Udah agak baikan?" tanya senior wanita tersebut.

"Iya, orang tua saya meminta saya untuk bolos kuliah hari ini. Tapi saya ada janji wawancara Kakak, mengerjakan tugas kelompok dan ada kelas seni yang harus saya hadiri nanti sore."

Saat itu mahasiswi itu sedang terkena batuk-batuk dan memaksakan dirinya untuk kuliah hari ini. Ajaibnya setelah berbicara dengan senior tersebut, perlahan-lahan penyakit ringannya mulai sembuh. Kemudian, tangan lembut malaikat penyembuh tersebut meraihku dan menggoreskan tanda tangannya di atas buku itu.

Bersambung...

Sabtu, 26 Oktober 2013

The Story of A x A


Sebuah kisah yang anonim dan ambigu...


source


Manusia normal itu bagaikan magnet yang terbagi menjadi dua jenis kutub, kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif pasti akan tertarik dengan kutub negatif, bukan? Aku dapat menganalogikan diriku sebagai sebuah magnet yang aneh, yang tidak tertarik pada kutub yang berbeda. Ya, diriku ini entah kenapa bisa tertarik pada kutub yang sama. Padahal, biasanya aku tertarik pada kutub yang berbeda selayaknya seorang manusia normal.

Awal bulan September. Aku ingat, sebuah peristiwa di mana aku dan dia pertama kali bertemu. Dia segera tahu namaku tanpa berkenalan terlebih dahulu.

"Halo, gue sering lihat lo tapi gue lupa nama lo siapa. Padahal kita, kan  kuliahnya satu jurusan...parah banget, ya gue. Hehehe..." gurauku.

"Nggak apa-apa, kok. Gue bukan lo yang populer. Kata anak-anak di kampus, sih lo baik dan senyum lo juga manis." tuturnya. Jadi tadi itu... aku dirayu oleh sesama kutub positif? Yah, paling dia hanya bercanda.

"Ah, lo bisa aja! Eh...lo bilang senyum gue manis? Gila, gue masih normal!"

Dia hanya tertawa. Ya, orang-orang bilang aku memang populer. Jadi wajar saja kalau banyak yang tahu namaku. Dan aku berani mengakui kalau dia memang, yah...sedikit memiliki pemikiran dan sifat yang nyeleneh. Tetapi, entah apa alasannya aku tahan dengan sifatnya yang aneh seperti itu. Di sisi lain aku kagum padanya karena dia memiliki otak yang cerdas dan dia sering membantuku apabila ada kesulitan dalam memahami buku-buku tebal yang menjadi makanan kami sehari-hari.

Awalnya kami hanya terlihat sebagai teman kos biasa, yang sering belajar bersama, dan menjalani senang susah sebagai dua orang mahasiswa yang tinggal di rumah kos yang sama. Dia sering bercerita padaku tentang seseorang yang lain.

Anehnya, aku sering dibanding-bandingkan dengan orang lain yang dia ceritakan berulang-ulang kepadaku. Memangnya apa kurangnya aku sebagai sahabat? Siapa dia? Aku jadi penasaran.

Hingga pada suatu hari di pertengahan bulan Oktober, dia berhenti menceritakan tentang orang tersebut, dan terus- terusan mendekatiku, menyentuhku seakan-akan aku adalah pengganti orang yang selama ini ceritakan padaku. Dia bercerita kepadaku, bahwa selama ini orang itu tidak memperdulikannya dan dia menyadari bahwa akulah yang lebih peduli padanya.

Aku sudah biasa disentuh-sentuh seperti itu, teman-teman di sekolahku yang dulu sering memperlakukanku seperti itu meskipun tujuannya hanya sekedar untuk bergurau. Tetapi, mengapa aku bisa menikmati hal ini? Kurasa aku akan tertarik ke kutub magnet yang sama, alias jatuh cinta dengan sahabatku sendiri.

Tidak! Aku tidak boleh menjadi seorang penyimpang sosial!

Suatu malam menjelang akhir bulan November, aku merasa benar-benar jatuh cinta padanya. Tuhan, tolong aku! Jangan biarkan aku jatuh dalam dosa!

"Gue baru pulang, nih...maaf gue harus bikin lo nunggu lama." kataku dengan nada lesu.

"Nggak apa-apa, kok. Gue tahu lo sibuk dan capek banget, jadi lo langsung istirahat di kamar aja. Nanti lo nggak bisa kuliah besok kalau lo nggak cukup istirahat. Sebenernya gue juga capek nungguin lo... jadi malem ini kita istirahat bareng." ajaknya.

"Langsung tidur? Bukannya kita harus makan malam dulu, ya?" tanyaku bingung.

"Ini tanggal tua, tahu! Kita nggak ada uang buat makan. Tunggu...apa mendingan gue makan lo aja, ya?"

"Hah? Maksud lo apa? Sumpah, gue bingung sama jalan pikiran lo." kataku dengan nada cemas. Aku cemas dia akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku.

"Ikut gue. Sekarang." ajaknya dengan nada bicara yang berubah menjadi lebih dingin.

Dia menggenggam dan menarik tangan kananku. Aku ditarik masuk ke dalam kamar tidur, dan dia mendorongku ke arah kasur. Tiba-tiba saja, dia menautkan bibirnya di bibirku.

"Ngapain tadi lo tadi nyium gue?" tanyaku setelah adegan ciuman mendadak ini selesai.

"Jujur, lo itu manis." katanya sambil meraba-raba wajahku.

"Maksud lo apa? Stop! Gue nggak suka kalau ini semua udah melewati batas!" ujarku marah.

Dia tidak mau berhenti, dia melepaskan semua rajutan di tubuhku dan terus mengeksplor setiap inci tubuh mungilku, dan memainkan tubuhku seperti boneka. Mataku resah menatap jam dinding kamarku yang terus berdetak. Kapan jam penyiksaan ini berakhir?

"Gue udah nggak tahan! Sakit! Stop!" jeritku.

"Mungkin lo bisa bilang enggak, tapi kalau ternyata tubuh lo pengen lebih ya...mana bisa gue berhenti?"

Aku sudah lelah dan risih dengan segala rangsangan yang memenuhi sekujur tubuhku ini, namun di sisi lain aku adalah seorang masokis yang menikmati sentuhan jemari yang bagaikan silet-silet yang mengiris kulitku.

Keesokan paginya aku memutuskan untuk mengepak barang-barangku karena orangtuaku meminta aku untuk kembali ke rumah. Orangtuaku mengatakan bahwa aku harus kembali karena ibuku sakit parah. Sesungguhnya aku tidak mau pulang dengan rupa seperti makhluk aneh, dan  mereka tidak akan rela kalau tahu anaknya menyimpang. Tetapi di sisi lain, aku sangat menyayangi ibuku dan aku tidak mau setiap malam dia mengigau memanggil nama anaknya. Pada akhirnya, aku meninggalkan dia yang resah karena tidak ada aku lagi, sesosok tubuh mungil yang bisa disentuhnya setiap malam -- tanpa pamit.

Aku akhirnya memutuskan untuk pulang dengan bunga-bunga mawar yang membekas di sekujur tubuhku, dan kenangan akan bekas rangsangan saraf yang lukanya masih terasa bagaikan irisan silet di atas kulitku.Terpikir untuk meminta maaf padanya karena aku meninggalkannya tanpa pamit, tetapi aku tidak akan sempat. Aku meninggalkan dia karena keterpaksaan semata, sesungguhnya kalau aku mau aku akan tetap di situ.

Sebab aku berani mengakui, kalau aku sudah jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Dan selamanya aku akan tertarik pada kutub yang sama.